Sore itu adalah sore yang kontras. Di bawah langit yang berkilauan jingga, seluruh kota seolah berpesta, merayakan euforia atas kebahagiaan yang berhasil mereka raih. Namun, di tengah sorak-sorai manusia yang membanjiri jalanan, seorang pemuda berdiri dalam sunyi di sebuah halte bus menuju pusat kota.
Ia adalah Pram. Sosoknya tegap dengan bahu yang bidang, memberinya kesan gagah dan kokoh. Garis wajahnya yang tegas seharusnya memancarkan karisma, namun itu semua tertutupi oleh kesedihan yang mengendap dalam sorot matanya yang gelap dan sayu. Kehadirannya menarik perhatian, bukan karena kegembiraan yang ia tunjukkan, melainkan karena ketenangan yang berlumur duka yang selalu ia bawa.
Pram adalah seseorang yang kini begitu akrab dengan kesedihan, seolah duka telah menjadi sahabat karibnya. Familiaritasnya dengan jurang pilu pribadinya memberinya kepekaan luar biasa dalam membaca duka orang lain. Ia mampu membaca fisiognomi kesedihan—dari raut wajah yang menua sebelum waktunya, tarikan sudut bibir yang dipaksakan, hingga gelagat tubuh yang lesu. Ia cepat tanggap memahami penderitaan yang tersembunyi, namun hari itu, ia terlalu fokus pada dukanya sendiri yang tak terobati untuk memperhatikan sekitarnya. Matanya tak henti-hentinya menatap jarum jam tangannya. Ia menunggu, namun raut wajahnya terlalu kalut untuk sekadar menunggu transportasi umum. Ada campuran kecemasan dan kegelisahan yang terpeta jelas di setiap mimik wajahnya.
Sudah lebih dari tiga bus melintas, berdesakan mengangkut penumpang yang bergairah, tetapi tak satu pun yang ia naiki. Tak heran, beberapa orang yang singgah di halte itu menatapnya dengan pandangan penuh tanya. Apa gerangan yang ia tunggu? Hingga ia begitu betah duduk di sana, membiarkan waktu terbuang di tengah cuaca yang cenderung terik itu. Beberapa menit kemudian, Pram bangkit. Ia melangkah meninggalkan halte, berjalan tanpa arah yang pasti yang dapat diprediksi, sendirian.
Udara kota begitu menusuk dan panas menyengat; polusi dari kendaraan bermotor seakan mempercepat usia setiap helaan napas yang dihirup. Langkah kakinya membawa Pram berhenti di depan sebuah toko bunga kecil. Toko itu tampak termakan usia, dengan pintu kayu yang lapuk dan cat yang telah memudar. Di ambang pintu, seorang pria paruh baya dengan wajah tulus dan ramah keluar.
Melihat kakek itu, mata Pram yang terbiasa membaca kesedihan langsung menangkap sinyal yang dikenalnya. Si Kakek memang tersenyum, namun senyum itu tidak mencapai matanya. Pram melihat garis-garis kelelahan yang mendalam di sekitar mata sang kakek, serta ketegasan pada rahangnya yang menunjukkan perjuangan keras yang dipikulnya sendirian. Pram tahu, kakek ini tidak hanya berjuang melawan sepi pembeli, melainkan melawan keputusasaan yang halus. Kakek ini kehilangan sesuatu yang besar, dan toko bunga ini, meski usang, adalah jangkar terakhir yang ia pegang. Pram merasa keakraban dalam duka itu—seperti dirinya yang berpegangan pada kenangan.
Pram mendekat dan menunjuk seikat bunga yang terlihat kusam di etalase, bunga-bunga yang seolah ikut menua bersama tokonya. "Berapa harga seikat bunga ini, Kek?" tanyanya lembut.
Si Kakek tersenyum getir, matanya menerawang pada karangan bunga yang ia tata, seolah bunga itu menyimpan kisahnya. "Jujur, Nak. Saya sudah tidak tahu harus memberi harga berapa. Bunga itu sudah lama sekali di sana, bahkan kamu bisa lihat sendiri, debunya sudah menempel tebal, 'kan?"
Kakek itu menarik napas, ada getaran samar dalam suaranya. "Ambil saja, Nak. Kamu hargai sesukamu. Saya terima berapa pun yang kamu bayar," sambungnya, nadanya penuh keikhlasan sekaligus kepasrahan yang mendalam.
Bagi Pram, bunga itu bukan lagi sekadar komoditas yang dinilai dari kesegarannya. Bunga itu adalah cerminan dari duka si Kakek; sesuatu yang indah namun tak lagi dihargai oleh dunia.
Ekspresi Pram berubah menjadi kebulatan tekad. Bukan harga bunga yang ia bayar, melainkan penghormatan terhadap perjuangan dan kesedihan yang sama-sama mereka pikul. Tanpa berpikir panjang, Pram meletakkan selembar uang seratus ribu di tangan Kakek itu tanpa menunggu kembalian sedikit pun. Ia hanya mengangguk hormat, lalu bergegas pergi. Pram sadar, di tengah kehilangan besarnya, ia masih mampu meringankan duka orang lain yang senasib.
Langkahnya kini tergesa-gesa, seolah ia sedang mengejar waktu yang hilang, atau mungkin mengejar janji yang tak sempat terpenuhi. Ia berjalan menuju sebuah area yang ditandai oleh deretan nisan yang tertancap rapi di tanah. Ya, pemuda gagah itu tiba di kompleks pemakaman umum, bukan untuk berziarah biasa, melainkan untuk sebuah pertemuan yang tak terhindarkan dan ritual tahunan yang tak pernah ia lewatkan. Ia berhenti dan berlutut di samping salah satu makam. Di sanalah, Kekasih Hati-nya bersemayam untuk selamanya.
"Sudah berapa musim berlalu, Sayang?" ucapnya lirih, suaranya bergetar menahan pilu.
Ia mengusap lembut nisan yang dingin. "Aku pikir, aku bisa menemukan kebahagiaan yang jauh lebih utuh dan gemilang daripada yang pernah aku dapatkan ketika bersamamu. Tapi, sungguh, rasanya begitu berat sekarang."
Pram menunduk, air matanya tumpah, membasahi tanah kering di hadapannya.
"Saat kita sudah merangkai setiap inci masa depan kita berdua—cita-cita, rumah, perjalanan—ternyata masa depan yang harus aku hadapi sekarang adalah kehilangan. Hidup berjalan terlalu kejam," bisiknya, pedih tak tertahankan.
Ia meletakkan seikat bunga yang penuh debu itu di atas makam. Bunga itu kini bukan sekadar simbol, melainkan saksi bisu bahwa meski waktu terus berjalan dan dunia merayakan kebahagiaannya sendiri, ada hati yang masih terasa utuh dalam kesendirian, dan ada cinta yang tetap bersemi di balik kehilangan. Setelah berdoa dalam diam, memohon pada Tuhan agar kekasihnya dilimpahi kedamaian abadi dan dirinya dikuatkan untuk menjalani hidup, Pram berdiri. Ia tahu, penantian di halte itu, kegelisahannya, dan bunga yang usang itu adalah ritual tahunan yang tak akan pernah bisa ia tinggalkan. Ia harus kembali ke kota yang ramai itu, membawa serta kekuatan dan kesedihan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya.
0 Komentar