Saat aku sedang asyik menonton sebuah serial di platform streaming menggunakan komputer di kamarku, tiba-tiba segalanya tersapu gelap. Secara refleks aku mengumpat karena hari ini pemadaman listrik sudah terjadi untuk yang kesekian kalinya.
Sambil menahan napas, pelan-pelan aku melangkah mencoba
menggapai gagang pintu kamar. Aku berencana untuk mencari HP yang tertinggal di
ruang keluarga. Entah kenapa, pemadaman listrik akhir-akhir ini seolah menjadi
rutinitas yang menjemukan.
Baru beberapa langkah sebelum mencapai pintu, ujung kakiku
menghantam sesuatu. Suara dentang nyaring memecah kesunyian, mirip kaleng
kosong yang menggelinding, tapi mataku gagal menangkap apa itu sebenarnya.
“Ah sial, apa kaleng minumanku tadi ya?” gerutuku, lalu
terus melanjutkan langkah.
Setelah suara kaleng itu menghilang, kini ada suara lain
yang membuatku bergidik ngeri. Aku mendengar suara tangisan yang semakin
nyaring terdengar dari luar kamar. Bulu kudukku seketika berdiri. Aku yakin ini
bukan sekadar imajinasiku saja atau rasa ketakutan yang kekanak-kanakan.
Semakin aku melangkah, semakin keras suara tangis itu, seolah ia bergerak
mendekat ke arah pintuku. Apa
karena aku habis nonton film horor kali ya, jadi parnoan gini? Batinku.
Sambil meraba dinding yang dingin, aku memutar gagang pintu
dengan tangan yang gemetar. Begitu pintu terbuka, cahaya menyilaukan tiba-tiba
meledak dari kegelapan, menembak langsung ke arah mataku. Aku tersentak,
berteriak, dan refleks menutupi wajah. Tentu saja, beberapa umpatan kasar
langsung lolos dari mulutku karena hal ini benar-benar berhasil membuat
jantungku rasanya ingin berhenti berdetak di tempat.
“Berisik banget sih! Ini gue!” suara serak itu membalas,
disusul isakan yang terdengar sangat menderita.
Aku tersengal-sengal, mencoba menenangkan detak jantungku
yang masih berpacu gila-gilaan. “Ngapain sih nangis sesenggukan begitu?! Bikin
jantungan tahu!”
“Nih...” balas kakakku sambil mengangkat sebelah kakinya dan
mengarahkan lampu senter ke bawah, memperlihatkan sedikit bercak darah di telapak
kakinya. “Tadi pas mau buang sampah ke belakang, tiba-tiba aja lampunya mati.
Makanya gue nyoba masuk lagi buat ambil senter, eh malah nancep nih duri
sialan!” ujarnya menjelaskan kesialan yang sedang dialaminya.
Aku berkacak pinggang dalam gelap. “Ya terus kenapa malah
jalan ke kamar gue?”
“Gue takut setan!”
“Terus lu pikir gue nggak ketakutan juga, hah?!”
Mendengar
jawabannya yang polos tapi menyebalkan itu, aku hanya bisa mengembuskan napas
berat secara dramatis. Rasa takut yang tadi sempat mencengkeram dadaku kini
benar-benar luluh lantak, berganti menjadi rasa gemas ingin menjitak kepala
orang di depanku ini.
"Siniin senternya," kataku sambil merebut paksa
senter dari tangannya. Cahayanya sekarang kuposisikan menyorot ke bawah,
menerangi lantai lorong yang berdebu.
"Aduh, pelan-pelan dong! Sakit nih," keluhnya
sambil mendelik, mencoba menjaga keseimbangan dengan bertumpu pada satu kaki
seperti burung bangau tersesat.
"Makanya, punya mata tuh dipake. Udah tahu mati lampu,
bukannya diem dulu malah nekat jalan ke belakang," omelku sambil
menuntunnya—lebih tepatnya menyeretnya—masuk ke kamarku dan mendudukkannya di
tepi tempat tidur. "Tunggu di sini. Jangan nangis lagi, geli gue dengarnya."
"Mau ke mana lu? Jangan tinggalin gue
sendirian lah!"
serunya panik, tangannya refleks mencengkeram ujung bajuku saat aku hendak
berbalik.
Aku berdecak, menyentakkan bajuku dari genggamannya.
"Mau ambil kotak P3K di ruang tengah, Kakakku sayang. Lu mau itu duri dibiarin aja
terus bersarang di kaki lu sampai besok
pagi?"
Tanpa menunggu
jawabannya, aku melangkah keluar kamar membawa senter, meninggalkan dia yang kembali merengek
pelan di dalam kegelapan kamarku. Saat melewati lorong, senterku sempat
menyorot kaleng soda kosong yang tadi kutendang. Aku menggelengkan kepala,
malam mingguku yang tenang sukses berubah jadi drama horor komedi yang sial.
"Buruan! Jangan lama-lama!" serunya setengah
berteriak dari dalam kamar saat aku mulai menjauh.
Aku tidak repot-repot menyahut. Aku keluar
mengambil kotak P3K, sekalian mengambil ponselku yang ketinggalan. Suasana rumah yang tadinya terasa
asing dan mencekam saat listrik pertama kali padam, kini kembali akrab—lengkap
dengan sudut-sudutnya yang biasa kuhafal di luar kepala. Drama barusan benar-benar
merusak atmosfer serial horor yang sedang kutonton di komputer tadi. Aku membuka laci lemari, mengaduk-aduk isinya sampai
menemukan kotak P3K plastik berwarna putih. Setelah memastikan isinya lengkap aku kembali melangkah ke kamar.
Begitu aku masuk, pemandangan di atas kasur membuatku hampir
ingin tertawa kalau tidak mengingat betapa paniknya aku beberapa menit lalu.
Kakakku sedang duduk meringkuk, memegang sapu di tangannya, sementara kakinya menjuntai ke
bawah.
"Nih, lurusin kakinya," kataku sambil meletakkan
kotak P3K di kasur dan duduk di lantai di hadapannya. “Terus turunin
dulu tuh sapu, ngapain coba lu pegang sapu?”
"Ya takut kalau yang masuk bukan lu, kan
bisa buat mukul,” katanaya dengan polos. “Pelan-pelan ya... Gue beneran sakit ini, bukan akting,"
wajahnya meringis ngeri saat melihatku mulai menjepit pinset besi.
"Iya, bawel. Senterin yang bener ke arah telapak kaki
lu, jangan digoyang-goyang."
Cahaya senter kini terfokus pada titik luka. Ada sedikit
darah yang mulai mengering di sekitar duri hitam yang menancap cukup dalam.
Begitu ujung pinset menyentuh kulitnya, dia langsung menarik napas tajam dan
mencengkeram bantal gulingku erat-erat.
"Tahan, hitungan ketiga ya. Satu... dua..."
Pluk.
"Aduh! Sialan, belum hitungan ketiga udah ditarik!"
jeritnya protes, meski sedetik kemudian dia mengembuskan napas lega begitu
melihat duri sepanjang hampir dua sentimeter sudah berpindah ke ujung pinsetku.
"Kalau nunggu hitungan ketiga, lu keburu pingsan karena
parno duluan," ujarku santai sambil membersihkan sisa darah dengan kapas
beralkohol, mengabaikan ringisan perihnya yang tertahan. Aku menempelkan
plester di lukanya sebagai penyelesaian. "Udah, beres. Gitu aja nangisnya
kayak habis diteror hantu penunggu kebun belakang."
Dia menurunkan kakinya hati-hati, lalu menatapku dengan
tatapan jengkel yang mulai kembali ke setelan pabriknya. "Ya kan lu tahu
sendiri gue sensitif sama yang gelap-gelap. Lagian gara-gara lu juga, gue terus yang
beresin sampah di rumah?” keluh
kakakku.
"Lah, kok jadi gue? Emangnya semua
sampah yang ada di rumah ini tuh, sampah gue semua?!" balasku tidak mau kalah.
Tepat saat dia membuka mulut untuk mendebatku lagi,
terdengar suara bzzzt
rendah dari arah ruang tengah. Detik berikutnya, lampu kamar mendadak menyala
terang, membuat kami berdua refleks mengernyitkan mata karena silau. Pendingin
ruangan berbunyi tit panjang dan mulai mengembuskan angin dingin,
sementara layar komputer di mejaku kembali menyala.
Kami berdua sempat terdiam selama beberapa detik, saling
pandang di bawah terang lampu yang benderang. Rasa mencekam, tangisan, dan
drama duri tadi mendadak terasa sangat konyol sekarang. Kakakku berdehem, lalu dengan santai
menggeser duduknya ke tengah kasurku dan bersandar pada bantal. "Nah, udah
nyala tuh lampunya. Lu lagi nonton apaan tadi? Ikutan dong, tanggung udah
telanjur di sini," ucapnya
santai.
Aku meliriknya tidak percaya, lalu berjalan menuju kursi
komputer. "Nggak ada tontonan gratis. Lu yang modal camilannya sana ke
depan, ambil keripik di meja makan.”
"Enggak mau, kaki gue masih trauma," sahutnya
lempeng, sambil meluruskan kedua kakinya di atas kasurku tanpa rasa bersalah.
"Udah, lu aja yang ambil. Anggap aja upah karena gue udah berhasil bikin
lu latihan jantung malam ini."
Aku hanya bisa memutar bola mata pasrah. Debat dengan
kakakku saat dia sedang mode manja begini memang tidak akan ada habisnya. Aku bangkit dari kursi tanpa
memperpanjang perdebatan dengannya lagi, melangkah keluar kamar menuju ruang makan yang sekarang
sudah terang benderang. Begitu mengambil sebungkus keripik kentang dan sebotol
air soda dari kulkas.
Saat aku kembali masuk ke kamar, kakakku sudah dengan nyaman
menguasai setengah kasurku, matanya fokus menatap layar komputer yang sedang
menampilkan menu utama serial yang sempat tertunda tadi.
"Nih," kataku sambil melempar bungkus keripik
tepat ke pangkuannya, lalu duduk kembali di kursi kerja.
"Nah, gini dong. Yuk, play! Gue mau lihat
seseram apa film yang bikin lu parno sampai ngumpat-ngumpat tadi," ujarnya
dengan nada mengejek yang sangat kentara.
Aku mendengus remeh, lalu menggerakkan mouse dan
mengeklik tombol play. "Lihat aja nanti. Awas aja kalau lu
tiba-tiba jerit terus meluk guling gue lagi."
Lampu kamar sengaja tetap kubiarkan menyala terang. Diiringi
suara kunyahan keripik yang renyah dan musik pembuka serial yang mulai menggema
dari speaker, malam minggu kami yang awalnya mencekam akhirnya kembali
normal. Sebuah malam minggu biasa yang ditutup dengan obrolan hangat, tontonan
bersama, dan tentu saja—sebuah plester luka di telapak kaki yang akan menjadi
bahan ledekan gratis untukku selama seminggu ke depan.
TAMAT

0 Komentar