TRAGEDI DI MALAM MINGGU


***

Saat aku sedang asyik menonton sebuah serial di platform streaming menggunakan komputer di kamarku, tiba-tiba segalanya tersapu gelap. Secara refleks aku mengumpat karena hari ini pemadaman listrik sudah terjadi untuk yang kesekian kalinya.

Sambil menahan napas, pelan-pelan aku melangkah mencoba menggapai gagang pintu kamar. Aku berencana untuk mencari HP yang tertinggal di ruang keluarga. Entah kenapa, pemadaman listrik akhir-akhir ini seolah menjadi rutinitas yang menjemukan.

Baru beberapa langkah sebelum mencapai pintu, ujung kakiku menghantam sesuatu. Suara dentang nyaring memecah kesunyian, mirip kaleng kosong yang menggelinding, tapi mataku gagal menangkap apa itu sebenarnya.

“Ah sial, apa kaleng minumanku tadi ya?” gerutuku, lalu terus melanjutkan langkah.

Setelah suara kaleng itu menghilang, kini ada suara lain yang membuatku bergidik ngeri. Aku mendengar suara tangisan yang semakin nyaring terdengar dari luar kamar. Bulu kudukku seketika berdiri. Aku yakin ini bukan sekadar imajinasiku saja atau rasa ketakutan yang kekanak-kanakan. Semakin aku melangkah, semakin keras suara tangis itu, seolah ia bergerak mendekat ke arah pintuku. Apa karena aku habis nonton film horor kali ya, jadi parnoan gini? Batinku.

Sambil meraba dinding yang dingin, aku memutar gagang pintu dengan tangan yang gemetar. Begitu pintu terbuka, cahaya menyilaukan tiba-tiba meledak dari kegelapan, menembak langsung ke arah mataku. Aku tersentak, berteriak, dan refleks menutupi wajah. Tentu saja, beberapa umpatan kasar langsung lolos dari mulutku karena hal ini benar-benar berhasil membuat jantungku rasanya ingin berhenti berdetak di tempat.

“Berisik banget sih! Ini gue!” suara serak itu membalas, disusul isakan yang terdengar sangat menderita.

Aku tersengal-sengal, mencoba menenangkan detak jantungku yang masih berpacu gila-gilaan. “Ngapain sih nangis sesenggukan begitu?! Bikin jantungan tahu!”

“Nih...” balas kakakku sambil mengangkat sebelah kakinya dan mengarahkan lampu senter ke bawah, memperlihatkan sedikit bercak darah di telapak kakinya. “Tadi pas mau buang sampah ke belakang, tiba-tiba aja lampunya mati. Makanya gue nyoba masuk lagi buat ambil senter, eh malah nancep nih duri sialan!” ujarnya menjelaskan kesialan yang sedang dialaminya.

Aku berkacak pinggang dalam gelap. “Ya terus kenapa malah jalan ke kamar gue?”

“Gue takut setan!”

“Terus lu pikir gue nggak ketakutan juga, hah?!”

Mendengar jawabannya yang polos tapi menyebalkan itu, aku hanya bisa mengembuskan napas berat secara dramatis. Rasa takut yang tadi sempat mencengkeram dadaku kini benar-benar luluh lantak, berganti menjadi rasa gemas ingin menjitak kepala orang di depanku ini.

"Siniin senternya," kataku sambil merebut paksa senter dari tangannya. Cahayanya sekarang kuposisikan menyorot ke bawah, menerangi lantai lorong yang berdebu.

"Aduh, pelan-pelan dong! Sakit nih," keluhnya sambil mendelik, mencoba menjaga keseimbangan dengan bertumpu pada satu kaki seperti burung bangau tersesat.

"Makanya, punya mata tuh dipake. Udah tahu mati lampu, bukannya diem dulu malah nekat jalan ke belakang," omelku sambil menuntunnya—lebih tepatnya menyeretnya—masuk ke kamarku dan mendudukkannya di tepi tempat tidur. "Tunggu di sini. Jangan nangis lagi, geli gue dengarnya."

"Mau ke mana lu? Jangan tinggalin gue sendirian lah!" serunya panik, tangannya refleks mencengkeram ujung bajuku saat aku hendak berbalik.

Aku berdecak, menyentakkan bajuku dari genggamannya. "Mau ambil kotak P3K di ruang tengah, Kakakku sayang. Lu mau itu duri dibiarin aja terus bersarang di kaki lu sampai besok pagi?"

Tanpa menunggu jawabannya, aku melangkah keluar kamar membawa senter, meninggalkan dia yang kembali merengek pelan di dalam kegelapan kamarku. Saat melewati lorong, senterku sempat menyorot kaleng soda kosong yang tadi kutendang. Aku menggelengkan kepala, malam mingguku yang tenang sukses berubah jadi drama horor komedi yang sial.

"Buruan! Jangan lama-lama!" serunya setengah berteriak dari dalam kamar saat aku mulai menjauh.

Aku tidak repot-repot menyahut. Aku keluar mengambil kotak P3K, sekalian mengambil ponselku yang ketinggalan. Suasana rumah yang tadinya terasa asing dan mencekam saat listrik pertama kali padam, kini kembali akrab—lengkap dengan sudut-sudutnya yang biasa kuhafal di luar kepala. Drama barusan benar-benar merusak atmosfer serial horor yang sedang kutonton di komputer tadi. Aku membuka laci lemari, mengaduk-aduk isinya sampai menemukan kotak P3K plastik berwarna putih. Setelah memastikan isinya lengkap aku kembali melangkah ke kamar.

Begitu aku masuk, pemandangan di atas kasur membuatku hampir ingin tertawa kalau tidak mengingat betapa paniknya aku beberapa menit lalu. Kakakku sedang duduk meringkuk, memegang sapu di tangannya, sementara kakinya menjuntai ke bawah.

"Nih, lurusin kakinya," kataku sambil meletakkan kotak P3K di kasur dan duduk di lantai di hadapannya. “Terus turunin dulu tuh sapu, ngapain coba lu pegang sapu?”

"Ya takut kalau yang masuk bukan lu, kan bisa buat mukul,” katanaya dengan polos. “Pelan-pelan ya... Gue beneran sakit ini, bukan akting," wajahnya meringis ngeri saat melihatku mulai menjepit pinset besi.

"Iya, bawel. Senterin yang bener ke arah telapak kaki lu, jangan digoyang-goyang."

Cahaya senter kini terfokus pada titik luka. Ada sedikit darah yang mulai mengering di sekitar duri hitam yang menancap cukup dalam. Begitu ujung pinset menyentuh kulitnya, dia langsung menarik napas tajam dan mencengkeram bantal gulingku erat-erat.

"Tahan, hitungan ketiga ya. Satu... dua..."

Pluk.

"Aduh! Sialan, belum hitungan ketiga udah ditarik!" jeritnya protes, meski sedetik kemudian dia mengembuskan napas lega begitu melihat duri sepanjang hampir dua sentimeter sudah berpindah ke ujung pinsetku.

"Kalau nunggu hitungan ketiga, lu keburu pingsan karena parno duluan," ujarku santai sambil membersihkan sisa darah dengan kapas beralkohol, mengabaikan ringisan perihnya yang tertahan. Aku menempelkan plester di lukanya sebagai penyelesaian. "Udah, beres. Gitu aja nangisnya kayak habis diteror hantu penunggu kebun belakang."

Dia menurunkan kakinya hati-hati, lalu menatapku dengan tatapan jengkel yang mulai kembali ke setelan pabriknya. "Ya kan lu tahu sendiri gue sensitif sama yang gelap-gelap. Lagian gara-gara lu juga, gue terus yang beresin sampah di rumah?” keluh kakakku.

"Lah, kok jadi gue? Emangnya semua sampah yang ada di rumah ini tuh, sampah gue semua?!" balasku tidak mau kalah.

Tepat saat dia membuka mulut untuk mendebatku lagi, terdengar suara bzzzt rendah dari arah ruang tengah. Detik berikutnya, lampu kamar mendadak menyala terang, membuat kami berdua refleks mengernyitkan mata karena silau. Pendingin ruangan berbunyi tit panjang dan mulai mengembuskan angin dingin, sementara layar komputer di mejaku kembali menyala.

Kami berdua sempat terdiam selama beberapa detik, saling pandang di bawah terang lampu yang benderang. Rasa mencekam, tangisan, dan drama duri tadi mendadak terasa sangat konyol sekarang. Kakakku berdehem, lalu dengan santai menggeser duduknya ke tengah kasurku dan bersandar pada bantal. "Nah, udah nyala tuh lampunya. Lu lagi nonton apaan tadi? Ikutan dong, tanggung udah telanjur di sini," ucapnya santai.

Aku meliriknya tidak percaya, lalu berjalan menuju kursi komputer. "Nggak ada tontonan gratis. Lu yang modal camilannya sana ke depan, ambil keripik di meja makan.

"Enggak mau, kaki gue masih trauma," sahutnya lempeng, sambil meluruskan kedua kakinya di atas kasurku tanpa rasa bersalah. "Udah, lu aja yang ambil. Anggap aja upah karena gue udah berhasil bikin lu latihan jantung malam ini."

Aku hanya bisa memutar bola mata pasrah. Debat dengan kakakku saat dia sedang mode manja begini memang tidak akan ada habisnya. Aku bangkit dari kursi tanpa memperpanjang perdebatan dengannya lagi, melangkah keluar kamar menuju ruang makan yang sekarang sudah terang benderang. Begitu mengambil sebungkus keripik kentang dan sebotol air soda dari kulkas.

Saat aku kembali masuk ke kamar, kakakku sudah dengan nyaman menguasai setengah kasurku, matanya fokus menatap layar komputer yang sedang menampilkan menu utama serial yang sempat tertunda tadi.

"Nih," kataku sambil melempar bungkus keripik tepat ke pangkuannya, lalu duduk kembali di kursi kerja.

"Nah, gini dong. Yuk, play! Gue mau lihat seseram apa film yang bikin lu parno sampai ngumpat-ngumpat tadi," ujarnya dengan nada mengejek yang sangat kentara.

Aku mendengus remeh, lalu menggerakkan mouse dan mengeklik tombol play. "Lihat aja nanti. Awas aja kalau lu tiba-tiba jerit terus meluk guling gue lagi."

Lampu kamar sengaja tetap kubiarkan menyala terang. Diiringi suara kunyahan keripik yang renyah dan musik pembuka serial yang mulai menggema dari speaker, malam minggu kami yang awalnya mencekam akhirnya kembali normal. Sebuah malam minggu biasa yang ditutup dengan obrolan hangat, tontonan bersama, dan tentu saja—sebuah plester luka di telapak kaki yang akan menjadi bahan ledekan gratis untukku selama seminggu ke depan.

TAMAT

 

 

Posting Komentar

0 Komentar