MELAWAN DINDING KERAGUAN

Hari ini adalah hari yang kurancang setelah sekian lama kami terputus kontak. Aku membuat janji dengannya di sebuah kedai kecil, tempat yang dulu sering menjadi saksi bisu momen kami. Bagiku, tempat ini adalah monumen nostalgia, sebuah bagian terpenting dari mozaik hidupku. Sementara baginya? Mungkin hanya sebatas tempat biasa.

Aku sengaja datang lebih awal, tak ingin sedetik pun membuatnya menunggu. Setelah memilih sudut kosong, aku segera memesan satu cangkir espreso pekat—teman setia dalam penantian. Tak lama, pelayan mengantar pesananku.

Aku meraih gawai di saku, memeriksa barangkali ada kabar darinya, tetapi nihil. Kebosanan mulai merambati diriku. Aku pun larut dalam permainan digital, berusaha mengusir gelisah yang samar. Sudah setengah jam berlalu. Belum ada tanda-tanda kehadirannya. Rasa pesimis perlahan menyeruak, melenyapkan semangat yang tadi membuncah. Mungkin ia benar-benar sibuk, atau mungkin waktu yang ia miliki tak cukup rela disisihkan untukku. Kekecewaan mulai menitip di antara harapanku yang semula begitu tinggi. Aku berpikir, bagaimana mungkin seseorang yang sudah lama terpisah akan menepati janji dengan presisi waktu? Pasti ada seribu alasan yang bisa dijadikan alibi, bukan? Bahkan permainan yang kugenggam terasa hambar, ingin rasanya kutinggalkan semua ini dan rebah di rumah saja.

“Maaf ya, aku telat. Kamu sudah lama ya nunggunya? Maaf banget,” sebuah suara perempuan menyentakku, disusul bunyi tarikan kursi di depanku.

Refleks, kepalaku terangkat. Di hadapanku, ia telah duduk, anggun dan memesona. Aku sedikit terpaku—bukan hanya pada penampilannya yang cantik hari itu, tetapi juga pada kenyataan bahwa setelah sekian lama, ia sama sekali tidak melupakan wajahku. Atau jangan-jangan, hanya aku yang tak pernah berubah sejak dulu? Sudahlah, tak perlu terlalu dirisaukan. Aku sudah cukup bahagia ia mau memenuhi janji ini, padahal sedetik yang lalu aku sudah menaruh prasangka buruk.

“Ihh, malah bengong,” lanjutnya, menyadarkan aku dari lamunan singkat.

Aku tersentak, mengakhiri khayalan yang baru saja berputar di benakku.

“Nggak apa-apa, belum lama kok. Kamu kenapa telat? Pasti sibuk banget, ya?” tanyaku. “Oh iya, kamu mau pesan apa? Biar aku yang pesanin nih,” ujarku, kembali bersemangat dengan pertemuan itu.

“Kok, kamu yang nanya, bukan pelayan kafe-nya?” ia balik bertanya dengan nada heran.

“Betul juga, kenapa aku tanya begitu, ya? Harusnya pelayannya dong yang melayani, iya, kan?” kataku dengan ekspresi pura-pura bingung. “Tapi tak apalah, anggap saja membantu, siapa tahu nanti dapat diskon atau gratisan, haha,” gurauku.

Ia tertawa renyah, menutup mulutnya dengan tangan. Aku pun ikut tertawa. Tak peduli seberapa lama waktu perpisahan itu, jika salah satu di antara kami tidak membebani pertemuan dengan ekspektasi,
kecanggungan tidak akan pernah singgah. Malam itu, kami berhasil menghabiskan waktu dengan derai tawa dan rentetan cerita baru. Aku tak menyangka, momen spesial ini bisa terulang sekali lagi dalam hidupku. Sungguh kebahagiaan yang sulit digambarkan.

Aroma espreso pekat yang memudar dan hembusan udara malam yang dingin di luar kedai seolah menjadi simfoni latar bagi kisah yang tak pernah usai ini. Mataku terus menjelajah padanya, pada garis tawa yang dulu begitu kurindukan, pada sorot mata yang kini terlihat lebih matang—namun masih menyimpan kilau yang kuingat.

"Kamu tahu," katanya, menyentuh tepi cangkir kopinya yang mulai dingin. "Dulu, aku tak pernah menganggap tempat ini bernilai istimewa. Hanya kedai biasa. Tapi melihat betapa berartinya tempat ini bagimu... Rasanya sekarang aku jadi ingin sering-sering ke sini."

Aku terdiam sejenak, menelan gumpalan keharuan yang mendadak menyesak di tenggorokanku.

"Itu karena kamu adalah fokusnya," bisikku, nadaku sedikit tercekat. Lalu aku melanjutkan, "Tempat ini hanya wadah. Kamu adalah inti dari setiap memori di sini. Sejak hari itu, saat kita kehilangan kontak untuk waktu yang lama, aku selalu datang ke sini, berharap jika semesta punya sebuah anugerah kecil bernama pertemuan untukku. Aku menunggu ketidaksengajaan itu terwujud, tapi akhirnya aku bisa menemukan kontakmu dan mengumpulkan keberanian untuk menghubungimu serta membuat janji temu seperti hari ini."

Dia menyimak setiap kata yang kuucapkan, tatapannya tak lepas, penuh perhatian mendalam yang tak lagi menyimpan keraguan.

"Aku minta maaf," lirihnya, suaranya kini terdengar tulus dan lebih lembut. "Aku juga sering memikirkanmu. Tapi entah kenapa, dinding keraguan itu terlalu tinggi untuk kulewati. Sampai kamu menghubungiku, rasanya seperti peluang kedua yang tak boleh kulepaskan."

Aku menggeleng pelan, meyakinkannya bahwa tak ada yang perlu dimaafkan, hanya ada waktu yang perlu dirayakan. "Yang penting kita di sini sekarang. Bersama," kataku, mengulas senyum lega.

Percakapan kami kemudian melunak, beranjak ke refleksi tentang persimpangan yang pernah memisahkan kami. Kami membicarakannya tanpa dendam, hanya dengan rasa syukur karena kini kami kembali duduk berhadapan. Malam semakin larut, dan suara riak purba ombak yang kudengar dari kejauhan—mengingatkanku pada puisi itu—seolah ikut merestui ketenangan yang kurasakan. Tepat saat pelayan mulai merapikan kursi-kursi lain, ia meraih tanganku di atas meja. Hangat.

“Terima kasih sudah menunggu, dan terima kasih sudah menjadikan aku alasanmu untuk kembali ke sini,” ucapnya, tatapannya lekat.

Aku membalas genggamannya, merasakan detak jantungku kembali normal, setelah seharian dipenuhi cemas. Di hadapannya, tak ada lagi keraguan atau prasangka buruk. Hanya ada janji tak terucap bahwa pertemuan ini hanyalah awal, bukan akhir dari penantian yang panjang.

“Sama-sama,” jawabku, suaraku kembali jernih dan penuh tekad. “Mulai sekarang, kita tak perlu lagi mencari alibi untuk bertemu.”

Kami bangkit, meninggalkan kedai kecil itu. Malam telah sepenuhnya menjelang, dan lampu-lampu di jalanan tampak mulai meredup. Di bawah pendar lampu yang kini tak lagi terasa sayu—karena ada dia di sisiku—Kota ini terasa menawarkan bukan hanya pelukan, tetapi juga masa depan yang terentang yang siap kami jelajahi bersama.

Di luar, udara dingin menyambut kami, namun genggaman tangannya terasa seperti hangat sebuah suaka. Aku tahu, setelah hari ini, kedai kecil itu akan berubah makna baginya juga. Ia tak lagi sekadar tempat biasa, melainkan gerbang menuju kisah yang telah lama tertunda. Kami berjalan beriringan, meninggalkan jejak tawa di antara sunyi malam, menyambut setiap detik yang terbentang sebagai kemungkinan baru yang akan kami ukir bersama.

Posting Komentar

0 Komentar