ANEKDOT CIPTAAN BAPAK


***

    Hari ini genap empat tahun kepergian Bapak. Segala hal tentang beliau masih tersimpan rapi di kamarnya; foto, koleksi batu akik, hingga tongkat yang sering beliau bawa tiap kali menghadiri acara-acara besar. Bapak punya cara unik dalam merawat kami—sebuah kebiasaan yang membekas dalam hati seluruh anaknya. Dulu, setiap kali suara radio mulai terdengar dari kamar Bapak, berarti waktu salat sudah dekat. Siapa pun yang mendengarnya harus segera bersiap, baik untuk melangkah ke masjid maupun salat berjemaah di rumah.

Ritual unik Bapak tidak berhenti di situ. Setiap selesai Isya, Bapak akan pergi ke kamarnya sebentar untuk menulis sepucuk catatan, lalu menyelipkannya di bawah bantal kami masing-masing. Ibu selalu mengingatkan apa yang dilakukan Bapak dan kami harus membaca apa yang Bapak tuliskan sebelum memejamkan mata.

Isinya adalah sebuah anekdot pendek yang terkadang jenaka, kadang penuh makna. Bapak tak banyak bicara, tetapi tindakannya terasa seperti sebuah pelukan hangat. Bahkan ketika kami sudah beranjak remaja, Bapak tidak pernah absen melakukannya. Dulu, aku sempat merasa bosan dengan cerita yang dituliskan Bapak karena di beberapa hari ada cerita yang terasa berulang. Tentu saja aku berpikir demikian kala itu, karena bagaimana mungkin Bapak bisa membuat cerita yang berbeda setiap harinya? Aku tak mengerti dari mana semua cerita itu berasal.

Hari ini, saat aku kembali melangkah ke kamar Bapak untuk membersihkan debu-debu yang menempel, aku menemukan kembali tumpukan tulisan tangan tersebut. Aku duduk di ranjang kayu tua milik Bapak, mencoba membacanya ulang satu per satu.

Meski tidak semua berhasil kubaca, setelah kuamati lagi dengan teliti, anekdot yang ditulis oleh Bapak ternyata tidak pernah ada yang sama. Bapak tidak pernah sekalipun mengulang cerita meski ia menulisnya setiap hari. Anekdot-anekdot itu seperti rekam kejadian tentang apa yang kami lakukan hari itu—seperti sebuah potret dalam gambar, seperti video yang hanya bisa diputar di dalam ingatan. Bapak tidak pernah luput memperhatikan kami, sehingga catatan ini terasa seperti cerita paling berharga.

Aku memotret beberapa cerita yang Bapak tulis, lalu membagikannya ke grup WhatsApp kami berempat bersaudara. Adik-adikku merespons dan bernostalgia tentang apa yang dulu Bapak lakukan.






Kertas ini bertanggal beberapa tahun setelahnya, saat adik bungsuku baru masuk SMA.






Anekdot itu ditulis Bapak untuk adikku saat ia gagal dalam ujian matematika pertamanya. Saat itu adikku menangis sesenggukan hingga tertidur, dan ketika terbangun di pagi hari, catatan kecil itu sudah ada di tangannya.

***

Ruang percakapan grup yang biasanya hanya berisi lelucon atau koordinasi keluarga mendadak hening untuk beberapa saat. Pesan beruntun berganti menjadi gumpalan haru. Adik-adikku merespons dan bernostalgia tentang apa yang dulu Bapak lakukan. Tidak ada satu pun dari kami yang menyadarinya selama bertahun-tahun, sampai aku mengatakan apa yang kutemukan hari ini di kamar tua itu.

Semua terharu, semua merayakan Bapak di hari ini, di sebuah ruang pesan grup. Ibu yang membaca percakapan kami ikut mengirim pesan suara singkat dengan suara yang bergetar penuh kerinduan.

Aku menyandarkan punggungku ke sandaran ranjang kayu Bapak. Kamar ini masih terasa sama. Bau minyak kayu putih dan wewangian khas yang kerap Bapak pakai masih tertinggal tipis di udara. Di atas meja kecil di sudut ruangan, radio tua milik Bapak masih berdiri kokoh. Meski sore ini radionya bisu, aku seolah masih bisa mendengar dentang suaranya yang menjadi sebuah alarm penanda kami untuk bergegas mengambil wudhu. Bapak memang tidak pernah mengajari kami tentang kasih sayang lewat kata-kata manis atau pelukan yang hangat secara fisik. Beliau tidak pandai berpuisi, tidak pula pandai mengobral janji. Namun, lewat sapuan pena di atas kertas-kertas sederhana yang diselipkan di bawah bantal, beliau telah merajut ingatan paling indah tentang masa kecil kami.

Kami sangat beruntung menjadi anak-anaknya. Kami tidak pernah benar-benar kehilangan perannya, sebab cerita-cerita yang beliau tinggalkan akan selalu hidup—membimbing kami dalam diam, menyembuhkan luka-luka kami yang tersembunyi, dan mengingatkan bahwa di sudut rumah ini, pernah ada seorang laki-laki yang mencintai kami dengan cara paling senyap namun begitu dahsyat.

Aku merapikan kembali kertas-kertas itu, melipatnya dengan hati-hati, lalu menyimpannya di dalam kotak kayu di samping koleksi batu akiknya. Sore ini, rinduku pada Bapak tidak lagi terasa sesak. Rindu itu mendadak hangat, sehawa dengan pelukan Bapak yang tersimpan rapi di bawah bantal-bantal kami.

SELESAI.


Posting Komentar

0 Komentar