Namaku Angkasa. Sebuah ironi yang menyesakkan, karena sudah enam tahun lamanya hati ini terasa begitu hampa. Namaku melambangkan keluasan, kebebasan, tempat bersemayamnya keindahan, namun aku hidup bagai sangkar sempit di tengah pusat kota. Dulu, aku begitu bersemangat, hari-hari yang kulewati selalu dipenuhi riang. Tapi, semenjak Ibu pergi, semua berubah.
Kini, aku tinggal di sebuah kosan kecil, setelah memutuskan pergi dari rumah lima tahun lalu, tak lama setelah Ayah memilih menikah lagi. Aku tahu, Ayah butuh seorang pendamping, namun hatiku hanya belum bisa menerima keberadaan baru yang akan menggantikan posisi Ibuku di rumah itu. Ruang hampa itu, yang Ibu tinggalkan, seperti tak boleh disentuh siapa pun.
"Bu, Martabaknya satu," pesanku pada wanita paruh baya di gerobak itu. "Seperti biasa, Mas? Cokelat kacang keju, 'kan?" sahutnya ramah. "Iya, Bu."
Hari ini adalah hari ulang tahun Ayah. Sudah cukup lama aku tidak mengunjunginya. Sebuah kerinduan yang mendalam akan momen kebersamaan dulu perlahan menuntunku untuk bersikap lebih dewasa. Hal-hal yang sudah berlalu harus kuterima. Itulah mengapa, aku ingin membawakan Ayah buah tangan: martabak yang sering kubeli di penjual dekat kosanku. Karena sering membeli di sana, aku menjadi sedikit akrab dengan penjualnya, Ibu Lilis.
"Ini pesanannya sudah selesai," panggil Ibu Lilis, mengulurkan sekotak martabak hangat. "Mau ke mana nih, rapi banget. Mau ketemu pacarnya ya?" canda Ibu Lilis, matanya mengerling.
Aku tersenyum tipis, "Ah si Ibu, enggak lah. Saya mau pulang sebentar, Bu. Mau ketemu Ayah."
"Oh, begitu. Ya sudah, hati-hati ya, Nak Angkasa."
"Iya, Bu, terima kasih."
Aku mengendarai sepeda motorku, jantungku berdebar tak menentu. Sejak Ayah menikah aku tidak pernah lagi pulang ke rumah, hanya berkabar dengan Ayah melalui telepon, sekadar bertanya kabar. Setibanya di rumah, aku menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu. Tak lama, Ayah membukanya. Wajahnya yang mulai dihiasi garis usia terlihat terkejut, namun segera berubah menjadi senyum lebar.
"Angkasa?" Ayah memelukku singkat, lalu mundur selangkah. "Kenapa tidak bilang mau datang? Masuk, Nak, masuk."
Aku menyalami Ayah, lalu istri Ayah—Bunda Maya—yang juga keluar dari dapur menuju ruang tamu. Aku tak begitu akrab dengannya, karena memang tidak pernah tinggal serumah. Hanya ketika Ayah menikah dan setelah itu aku memutuskan untuk tinggal sendiri. Tapi melihat Ayah diperlakukan baik, itu sudah cukup bagiku. Aku menyerahkan martabak itu pada Ayah.
"Selamat ulang tahun, Yah," ucapku tulus. "Martabak cokelat kacang keju, semoga Ayah suka."
Ayah tertawa kecil, menerima kotak itu. "Terima kasih, Nak. Padahal tidak perlu repot-repot."
"Mana ada repot, Yah. Martabak ini cuma butuh sepuluh langkah dari kosan," balasku, mencoba mencairkan suasana.
Kami duduk di ruang tamu. Bunda Maya kembali membawa nampan berisi teh hangat dan piring untuk meletakkan martabak yang masih terbungkus di dalam kotak.
"Silakan diminum, Angkasa," ujarnya lembut. "Ayah, Martabaknya dimakan selagi hangat. Aku ke belakang sebentar, ada pakaian di mesin cuci, lupa aku keringkan tadi pagi. Angkasa, mengobrol saja ya dengan Ayahmu."
"Terima kasih, Bunda," balasku, sedikit lega karena mendapat waktu berdua dengan Ayah.
Setelah Bunda Maya kembali ke belakang, Ayah mengambil sepotong martabak, namun ia hanya menatapnya. "Dulu, Ibumu selalu bilang dia paling suka martabak yang Ayah buat di rumah. Dia bilang martabak di luar terlalu manis, tapi martabak buatan Ayah pas manisnya," kenang Ayah, suaranya pelan dan penuh kerinduan.
Aku diam sejenak, menatap Ayah. Aku tahu mengapa Ayah begitu mahir membuat kudapan itu, meskipun profesinya sebagai guru sekolah dasar. Ayah pernah bercerita, kakek dulunya seorang penjual martabak, dan Ayah sering ikut membantu di masa mudanya. Itulah sebabnya, Ayah pandai dalam membuatnya.
"Aku ingat, Yah," sahutku. "Ibu selalu memuji masakan Ayah. Sampai sekarang aku ingat aroma adonan yang Ayah panggang di dapur itu."
Suasana hening sejenak. "Nak, Ayah tahu. Kepergian Ibumu meninggalkan lubang yang sangat besar," ujar Ayah, suaranya kembali pelan. "Ayah tahu, kamu pergi karena kamu masih terlalu mencintai Ibumu. Dan Ayah tidak menyalahkanmu."
"Aku hanya belum terbiasa, Yah," aku mengakui, menundukkan kepala. Kehampaan itu seperti udara dingin yang terus menusuk.
"Hidup ini memang harus terus berjalan, Nak. Ayah juga menyayangi Ibumu. Tempatnya di hati Ayah, dan di hatimu, tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan," kata Ayah, menggenggam tanganku.
Ayah menarik napas panjang, tatapannya menerawang, lalu kembali padaku. "Nak, Ayah tidak akan membohongimu. Kehadiran Bunda Maya—kehadirannya bukan lantas mengganti posisi Ibu. Ia hanya seseorang yang Tuhan kirim untuk menemani Ayah di sisa waktu ini. Namun, ada satu hal lagi, Angkasa. Kadang, saat Bunda Maya menyajikan teh hangat atau menata bunga di meja, Ayah melihat kemiripan sifatnya dengan Ibumu—ketelatenan, kehangatan hatinya yang murni, dan caranya merawat hal-hal kecil di rumah."
"Bunda Maya tidak sempurna, Nak, tapi ia membawa kembali ketenangan yang sudah lama hilang di rumah ini. Ayah menyayanginya, dengan cara yang berbeda, sama tulusnya, seperti Ayah menyayangi Ibumu dulu, dan seperti Ayah menyayangimu." Ayah tersenyum lembut. "Kamu juga harus belajar berjuang di luar sana, kelak kamu juga butuh pendamping hidup, Nak."
Kata-kata Ayah menyentuhku. Ayah tidak mencoba memaksakan perasaannya, ia hanya ingin aku memahami bahwa kehidupan barunya tidak lantas menghapus kenangan lama, melainkan melengkapinya dengan rasa baru yang tulus.
"Aku mengerti, Yah," bisikku. "Aku hanya ingin Ayah bahagia."
"Ayah bahagia, Nak. Ayah bahagia karena kamu datang hari ini. Jangan jadikan kerinduan pada Ibumu sebagai tembok, Angkasa. Jadikanlah ia sebagai sayap. Sayap yang mendorongmu untuk terus hidup baik dan bahagia, seperti yang Ibumu inginkan."
Aku mengangguk, menahan air mata yang mendesak keluar. Aku tahu, kehampaan dan kerinduan itu tidak akan pernah hilang. Posisi Ibu tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun. Namun, aku juga sadar, aku harus tetap menerima kenyataan bahwa hidupku dan hidup Ayah harus terus berlanjut.
"Aku janji, Yah. Aku akan baik-baik saja," kataku, kini tatapanku lebih tegak.
Setelah perbincangan itu, aku pamit pulang. Ayah memelukku erat, lebih erat dari biasanya.
Saat sepeda motorku melaju meninggalkan rumah itu, aku tak lagi merasakan kehampaan yang mencekik. Martabak cokelat kacang keju, buah tangan yang kubawa, kini terasa manis dan hangat. Aku tahu, meskipun rindu itu abadi, aku tetaplah Angkasa. Angkasa yang memiliki luasnya langit untuk menampung duka, namun juga memiliki kebebasan untuk menentukan kebahagiaannya sendiri.
Di bawah langit senja yang mulai meredup, aku menyadari bahwa kehampaan tidak harus diisi, tapi harus diterima sebagai ruang sunyi yang Ibu tinggalkan. Rumah itu tetap bersemayam kenangan kami, dan itu tak akan pernah bisa digeser oleh kehadiran siapa pun. Namun, sama seperti Ayah yang menemukan pendamping, aku pun harus menemukan caraku sendiri untuk hidup damai.
Rindu ini tidak perlu kuperangi lagi. Rindu ini adalah warisanku yang paling berharga. Aku menoleh ke belakang, melihat sekilas cahaya lampu dari rumah Ayah, dan kali ini, cahaya itu terasa hangat, bukan menyakitkan. Aku telah menemukan titik temu: antara hati yang merindu dan jiwa yang berikrar untuk tumbuh dewasa. Angkasa memang harus terus meluas, menampung semua rasa, baik duka maupun harapan baru. Dan aku memilih, mulai hari ini, untuk terbang menjadi Angkasa yang Ibu dambakan.
0 Komentar