Mampukah kita mencegah kepergian seseorang dari ranah hidup kita? Pantaskah kita memaksakan seseorang tetap tinggal, hanya sebagai penawar kekosongan? Padahal, dalam sanubari yang dirinya miliki, tak pernah ada kita sama sekali. Kita terlalu keras kepala pada ego sendiri, tanpa menyadari realitas pahit bahwa, "dia tak menginginkan."
Ikhlaskanlah...
Barangkali memang dia tidak diciptakan untuk mengukir kebahagiaan di diri kita, yang akan bertahan sepanjang usia. Tidak perlu menguras daya pada sebuah hubungan yang memang sudah tertulis untuk berakhir. Jangan memaksa hati seseorang untuk tinggal, jika sukacita tak pernah dia rasakan atas kehadiran kita.
Maka, biarkan dirinya terbang bebas, bersama kemerdekaan dan kehendak bebasnya. Belajarlah untuk berdamai dengan kekecewaan. Sebab, cinta sejati tak hanya bersemi dari pelukan bahagia, tetapi juga dari fragmen luka dan bekas-bekas kekecewaan.

0 Komentar