Misteri Antara Kita

Selalu saja kamu sodorkan berbagai macam misteri yang harus aku urai sendiri perihal perasaan ini. Selalu saja kamu mencoba berkilah ketika aku tanyakan kejelasan di antara hubungan kita ini. Apa sebenarnya kehendakmu padaku? Mengapa keragu-raguanmu harus menjadi penjara bagi perasaanku? Jika tidak, maka nyatakan lantang bahwa tidak. 

Jangan diam seolah mengamini perkataanku, padahal diriku sudah terseret dalam samudra ketidakpastian itu. Setiap hari yang berlalu tanpa jawaban terasa seperti mencuri waktu dari masa depanku sendiri. Kamu mungkin telah paham bahwa nurani seseorang tidak akan menemukan ketenangan jika satu pun kepastian tidak ia dapatkan. Ia akan dihantui kecemasan, dibayangi ketakutan akan kehilangan, sedangkan kamu sama sekali tidak mengacuhkan semua hal itu. 

Bahkan, kamu seolah menikmati posisi sebagai dalang yang memegang kendali atas emosi yang perlahan-lahan terkikis ini. Sudah, jika tidak katakanlah tidak. Jika iya, nyatakanlah selekasnya. Jangan buat seseorang terpasung menunggu keputusan, layaknya menunggu ajal yang tak pernah tahu kapan akan tiba. Kisah ini terlalu berharga untuk dibiarkan menggantung di antara janji palsu dan kebisuan yang merusak. Pahamilah dan bertindaklah. Jangan biarkan seseorang hanyut dalam penantian, sementara kamu tertawa lepas bersama orang lain. Bukankah hal tersebut tidak membuatmu terlihat buruk?

Aku harus menarik garis batas pada permainan ini. Cukup sudah aku biarkan jiwaku menjadi bidak dalam sandiwara yang kau ciptakan. Jika kebisuanmu adalah jawaban, maka aku memilih maknanya sendiri: Bahwa aku harus beranjak. Aku tak bisa terus mempertaruhkan kemerdekaan hatiku hanya demi menjaga ilusi kebersamaan yang tak pernah nyata. Kelak, ketika kau menoleh dan mendapati aku telah tiada, sadarilah bahwa aku pergi bukan karena aku tak mencinta, melainkan karena aku menyelamatkan diriku dari kekejaman penantian. Sebab, martabat diri jauh lebih berharga daripada status menggantung yang kau banggakan. Pergilah, dan bawalah semua misteri itu bersamamu.

Posting Komentar

0 Komentar