***
Asmara baru hadir tanpa mengetuk pintu, membawa presensi yang tak terduga ke dalam lingkar hidupku. Entah berapa lama ia memilih singgah, setidaknya telah kupersiapkan sudut paling nyaman untuk ia huni. Apakah aku hanya sebatas persinggahan di tengah kembara panjangnya, atau benar-benar menjadi muara terakhir tempatnya melabuhkan lelah, aku tak pernah tahu.
Kusediakan apa yang kupunya dengan cermat. Perihal aku yang mungkin jatuh hati teramat dalam, biar menjadi urusanku sendiri. Begitu pula jika kelak aku hancur ditinggalkannya, biar itu jadi risiko yang kurengkuh sendiri.
Dari sekian banyak pengelanaan, aku telah cukup akrab dengan tawa dan luka. Untuk jalan yang pernah kulewati, aku tak akan lupa arah pulang maupun cara menyembuhkannya. Setidaknya untuk detik ini, aku merayakan hadirnya.
Ia berhasil menyuntikkan rona baru pada ruang yang sekian lama abu-abu. Bertahun-tahun aku mengunci kemungkinan akibat trauma masa lalu, namun hadirnya seolah meruntuhkan sekat itu dengan mudah. Entah ia yang terlampau hebat, atau benteng pertahananku yang kian melunak.
Aku tak berhak menilai, yang pasti saat ini, aku sedang belajar meyakinkan diri bahwa aku layak untuknya—sampai batas waktu menentukan arah kita selanjutnya akan kemana.
written by : @eindafebritama
Lubuk Basung, 26 November 2021.
0 Komentar