---
Bukan semua kisah harus tertulis agung,
Pun bukan setiap fragmen harus menjadi debu karam.
Bagiku, mengeja namamu dalam bait
Adalah titian berkat yang masih kusimpan erat,
Sebab siluet dirimu, abadi di dalam aksara,
Dapat kutilik kembali,
menembus tirai waktu.
Bahwa sebelum dermaga 'masa depan' kutuju,
Aku pernah menjadi pengembara sunyi,
Seorang perindu yang disentuh oleh pancaran senyum,
Yang membebaskanku dari lelap lembah kesepian panjang.
Cinta dan kasih kupupuk, tertata rapi,
Laksana menjilid tiap lembar buku penangkapan jiwa,
Dengan metafora yang menjunjung citramu.
Aku mengunci setiap halaman,
Agar jejak tak terhapus oleh putaran jam,
Meski pada akhirnya, di altar lupa,
Kita hanya akan bertukar rindu di pelukan yang berlainan.
Aku tak sesali tinta yang membasuh namamu,
Sebab bukankah elok jika keindahan,
Diabadikan dalam ukiran sunyi begini?
Biarlah ia menjadi isakan di ujung hari, tiada mengapa.
Sebab masa lalu adalah kompas terbaik,
Yang mengajarkan kedewasaan pada setiap langkah.
Aku percaya, pada puisi dari segala yang telah usai.
---
Ditulis Oleh : Inda Febritama

0 Komentar