HAKIKAT PERJALANAN BENANG TAKDIR














Bukankah sepantasnya begitu,
Engkau dengan lingkar hidupmu,
dan aku dengan garis hidupku pula,
namun di waktu yang lalu, entah mengapa,
takdir kita bersinggungan mesra,
kau bertamu di ruang hidupku,
dan aku bersemayam di sanubarimu.

Sesaat kita merangkai jagat,
menjadikan dua sunyi menjadi satu riuh.
Menyulam kisah dari helaian waktu,
yang kelak akan terurai kembali menjadi debu.


Kini, saat alam menarik kembali benangnya,
kita harus berjarak seperti garis paralel.
Engkau membawa pulang cahayamu,
dan aku menyimpan jejakmu sebagai bekal.

Walau kita kembali terpisah sejati,
ada satu bait puisi yang abadi:
Bahwa pernah ada kita,
yang menolak sunyi,
meski hanya sekejap mata.

Ditulis Oleh : Inda Febritama (25/11/2025)

Posting Komentar

0 Komentar