Aku ingin kita kembali,
namun mampukah kita berlayar,
melupakan badai yang pernah merobek hati,
lalu merajut senja bahagia yang baru.
Kita sudah terlampau lama membiarkan hangat masa itu,
menjadi beku yang menusuk dan menggigil.
Kita sudah terlalu lama menjadi dua garis yang sejajar,
terbiasa untuk tidak saling bersama.
Namun, aku tetap ingin kita kembali,
sebab di jantungku masih ada api,
Biarkan kita membongkar puing-puing masa,
mencari janji yang tak sempat tertunai.
Tak perlu kita lupakan,
cukup kita pahami mengapa kita terluka.
Kita hadapi sisa-sisa arang kebencian,
ku genggam lukamu,
kau genggam raguku.
Mari kita tulis babak baru,
dengan pena yang sama,
di lembar yang sama,
di buku yang pernah kau berikan padaku.
Biarlah aku menjadi dermagam,
mencegah perahumu tak karam.
dan aku pun sama,
agar aku punya tujuan,
dan tak lagi berlayar tanpa arah yang jelas.
0 Komentar