Mundur, ke penjuru mana bayangmu kan tenggelam? Kota Padang, selalu tahu di mana diammu: Di balik bias lampu jalur pesisir yang lesu, Di riak purba ombak yang …
Bukankah sepantasnya begitu, Engkau dengan lingkar hidupmu, dan aku dengan garis hidupku pula, namun di waktu yang lalu, entah mengapa, takdir kita bersinggung…
Aku ingin kita kembali, namun mampukah kita berlayar, melupakan badai yang pernah merobek hati, lalu merajut senja bahagia yang baru. Kita sudah terlampau lama…
Peluk Erat Bahagiamu Kini.
Seorang penulis medioker dengan kepala yang terlalu penuh oleh ide dan mimpi yang terlalu besar untuk diredam. Menolak terpaku pada satu genre, saya memilih bertualang lewat puisi, cerpen, prosa, hingga buku pengembangan diri. Belum sempurna, tapi berkomitmen untuk terus berkarya dan bertumbuh di setiap rentang waktu.